PELAKSANAAN SURVEI APOTEK DI DIY

Penulis: Bidang Pendidikan dan Peningkatan Kompetensi PD IAI DIY

          Apoteker merupakan bagian dari tenaga kesehatan yang berkontribusi dalam pembangunan kesehatan bangsa sehingga harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang profesional. Untuk dapat mencetak lulusan apoteker yang cakap dan handal diperlukan sebuah sarana yang memadai dalam mewadahi kurikulum yang telah ditetapkan oleh pemerintah terkait standar pelayanan kefarmasian dalam era globalisasi ini. Kolaborasi yang efektif antara akademisi dan praktisi dalam mendidik calon apoteker sangat diperlukan untuk membangun metoda pembelajaran yang interaktif dan tercapainya sebuah kompetensi profesi. Untuk itu peluang ini ditangkap oleh Pengurus Daerah DI Yogyakarta di bawah bidang Pendidikan dan Peningkatan Kompetensi (PPK) bekerjasama dengan Perguruan Tinggi Farmasi untuk bekerjasama dalam rangka menjamin pelaksanaan Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) yang terstandar di seluruh Perguruan Tinggi Farmasi di Indonesia khususnya di Yogyakarta. Sehingga harapannya dapat menghasilkan apoteker yang mampu melaksanakan praktik kefarmasian sesuai standar.

          Hal yang pertama yang dilakukan adalah menilik kriteria tempat PKPA yang digunakan para PTF sudah memuat dari PMK yang telah ditetapkan pemerintah yaitu PMK No 72 tahun 2016 untuk rumah sakit, PMK No 73 tahun 2016 untuk apotek dan PMK No 74 tahun 2014 untuk puskesmas. Dari hasil analisis dengan PMK dibuatlah sebuah tools tiap sarana yang digunakan untuk mengukur suatu sarana kesehatan apakah sudah sesuai standar/kriteria. Kriteria memuat dari bentuk pelayanan dari mulai pengadaan hingga pelayanan, jumlah SDM yang memadai, ruangan dan fasilitas serta komitmen dalam membimbing calon apoteker. Tools yang digunakan disusun dengan melibatkan perwakilan dari seluruh Program Studi Profesi Apoteker (PSPA) di DIY yaitu UGM, UAD, Sanata Dharma, UII dan UMY. Sebelum tools digunakan dilakukan uji validitas konten yang melibatkan perwakilan yang mewakili 5 perguruan tinggi. Selanjutnya tools yang sudah tervalidasi digunakan untuk melakukan survei.

          Sebelum survei dilakukan,tim survei mengumpulkan data apotek yang akan disurvei. Apotek yang digunakan untuk PKPA oleh mahasiswa PSPA menjadi prioritas dilakukan survey. Selain itu dikumpulkan data Apotek yang bersedia untuk tempat PKPA melalui Himpunan Seminat Farmasi Komunitas. Hisfarma merupakan himpunan apoteker yang melakukan praktek di Apotek. Dari penjaringan tersebut terkumpul 41 Apotek terdiri dari 10 Apotek di Kota Yogyakarta, 19 Apotek di Kabupaten Sleman, 9 Apotek di Kabupaten Bantul, 2 Apotek di Kabupaten Gunungkidul dan 1 Apotek di Kabupaten Kulon Progo

        Survey dilakukan antara bulan Juni 2020 sampai dengan November 2020. Dari hasil survei selanjutnya dilakukan penilaian dengan dasar kriteria-kriteria yang sudah disepakati pada tahun 2018. Kriteria tersebut tertuang dalam MOU antara Perguruan Tinggi di DIY dan IAI. Dari hasil analisis kesesuaian menunjukan semua apotek memenuhi kriteria legalitas dan jumlah transaksi.

          Agenda selanjutkan akan diadakan secara simultan survey untuk rumah sakit dan puskesmas sehingga harapannya di tahun 2022 PD IAI Yogyakarta sudah memiliki list sarana kesehatan yang dapat digunakan untuk tempat PKPA. Kegiatan ini mendapat respon yang positif dengan PTF di Yogyakarta sehingga bisa digunakan standarisasi lahan PKPA yang harapannya dapat mengeluarkan output apoteker yang handal professional.